Nama :
Asmaul Husna
Nim :
12720017
Prodi :
Sosiologi
judul :
Agama dan Tradisi dalam Masyarakat Petani
Tema : Studi
tentang Upacara Wiwit
Jurnal :
Thaqafiyyat vol. 11, No.2, Juli-Desember 2010 M/ 1431 H
Oleh :
Ali Sodiqin ( Dosen Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu
Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta )
Konsep
upacara yang dimaksud dalam tulisan ini mengikuti konsep Dictionary of Anthropology, yaitu :
“ a fixed or sanctioned pattern of
behavior which surrounds various phase of life, often serving religious or
aesthetic and confirming the group’s celebration of a particular situation”.[1]
Upacara seringkali
berkaitan dengan religi, estetika, dan ritual kelompok terhadap
peristiwa-peristiwa tertentu. Salah satunya yaitu Upacara wiwit di Dusun
Babadan. Dusun Babadan merupakan salah satu dusun yang berada diwilayah Desa
Purwomartini Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Jumlah penduduknya sesuai dengan data statistik di pedusunan tahun
2008 sebanyak 960 jiwa. Dusun ini terdiri dari tiga sub dusun yaitu, Karang Lo,
Grenjeng, dan Babadan. dari segi mata pencaharian pokok, masyarakat babadan
termasuk dalam desa pertanian. Sebagian masyarakatnya adalah petani, dan bertani
sebagai gaya hidupnya. Dikarenakan faktor ekonomi yang berbaur dengan factor
kekeluargaan, keagamaan, dan social budaya.[2]
Dikalangan petani Babadan, mereka menjadikan keluarga
sebagai unit ekonomi, yang mana anggota keluarga yang sudah dewasa bersama-sama
terlibat dalam kegiatan pertanian. Secara organisasional para petani membentuk
Organisasi Pengguna Air (OPA). Organisasi ini merupakan wadah bagi para petani
yang memilki lahan persawahan di dusun Babadan.
Upacara wiwit merupakan
tingkah laku pengukuhan dan pernyataan kelompok, dalam hal ini petani, terhadap
peristiwa tertentu yaitu panen padi. Wiwit berarti mulai atau memulai. Upacara
ini adalah untuk memberi balasan atau jasa terhadap kekuatan yang mereka anggap
telah menjaga dan memelihara tanamannya. Proses dalam upacara ini dilengkapi
oleh makanan khas dan peralatan khusus.
Upacara wiwit merupakan
ritual yang bernilai religious, karena pelaksanaannya banyak menggunakan symbol
keyakinan masyarakat tersebut. Adanya fenomena symbol tersebuat merupakan salah
satu bukti bahwa adanya keterkaitan antara alam dunia dan alam gaib.
Kepercayaan ini menampakkan pengaruh animisme dan dinamisme yang masih melekat
dalam keyakinan masyarakat.
Teori yang digunakan
untuk menganalisis upacara wiwit ini adalah teori fungsionalisme. Teori ini
berangkat dari pemikiran positivisme dengan menekankan konsep masyarakat
sebagai organisme. Asumsi yang menjadi cirinya adalah bahwa realitas dipandang
sebagai suatu system. Proses suatu system hanya dapat dipahami dalam kerangka
hubungan timbal balik antara bagian-bagiannya. Disamping itu suatu system
terikat pada proses tertentu yang bertujuan untuk mempertahankan integritas dan
batas-batasnya.[3]
Proses pelaksanaan
upacara wiwit dibagi dalam tiga tahapan, yaitu tahap persiapan dengan
menyiapkan perlengkapan upacara, tahap pelaksanaan yang bertempat di sawah dan
tahap penutupan dengan pembagian sesaji menjadi enam bagian. Upacara wiwit
bermakna religious sekaligus magis. Dengan melihat kepercayaan masyarakat yang
animism dan dinamisme yang tidak sesuai dengan ajaran islam.
Komentar
Posting Komentar