Respon masyarakat
kaliurang barat mengenai Pemilu Daerah 2013/2014.
Kerap kali setiap pemilu daerah,
masyarakat mulai dilema dengan pencalonan kepala daerah baru yang bertepatan didaerah
kaliurang barat tersebut. Seperti halnya yang terjadi pada pemilihan calon
lurah kemarin, masyarakat harus memilih salah satu dari dua orang yang
mencalonkan diri dalam pemilu daerah ini. Salah satu dari calon lurah tersebut,
ada yang berbeda keyakinan (baca: non-Agama) karena mayoritas masyarakat
dikaliurang barat adalah beragama Islam, otomatis masyarakat didesa itu lebih
memilih calon lurah yang berkeyakinan sama, dibandingkan dengan calon lurah
yang berbeda Agama atau keyakinan meskipun calon lurah yang berbeda keyakinan
lebih dilihat bisa membawa perubahan yang positive bagi desa tersebut. Namun,
dengan adanya differensiasi keyakinan, masyarakat lebih memberikan
kepercayaannya kepada calon lurah yang menurut mereka bakal menjamin kehidupan
desa tersebut dengan mengatas namakan persamaan keyakinan. Masyarakat lebih
percaya bahwa persamaaan keyakinan akan lebih bisa memahami dan bisa
menjalankan otoritas sebagai lurah didesa itu. Ada ketidakadilan dalam pemilu
lurah didesa tersebut, karena masyarakat lebih mengatas namakan persamaan
keyakinan dalam menentukan kepala lurah didesa tersebut , sehingga calon lurah
yang non-agama merasa terisolasi dalam kehidupan masyarakat. Padahal apa yang
masyarakat percayakan belum tentu baik dalam menjalankan otoritasnya. Disini
kita bisa lihat, bahwa salah satu faktor yang yang menjadikan masyarakat
memilih pemimpin daerah adalah karena berdasarkan dengan persamaan Agama.
Meskipun ontran-ontran sering terjadi dikalangan masyarakat , karena pemimpin
didesa itu menjalankan otoritasnya tidak sesuai dengan visi dan misi yang dia
tawarkan. Saya yakin masyarakat merasa trauma dengan kejadian seperti itu,
apalagi kejadian seperti itu terjadi pula didesa kaliurang barat ini.
Masyarakat melihat bahwa pemimpin didesa lebih mementingkan kepentingan pribadi
daripada masyarakat didesa itu. Seperti apa yang dikatakan responden sekaligus
narasumber dalam sekolah penelitian yang kami lakukan. dia adalah seorang
mahasiswi jurusan Hukum di Universitas Islam Indonesia, sebut saja mbak Rina,
sekarang dia sedang menempuh S1, dia adalah salah satu masyarakat dikaliurang
barat yang mengetahui jelas mengenai sistem pemilu daerah didesa tersebut dan
sistem kepimpinan dari Lurah sebelumnya. Dia lebih memberikan informasi yang
menarik karena informasi yang dia berikan sudah masuk keranah politik, “lurah
yang kemarin lebih mementingkan kepentingan sendiri daripada kepentingan
bersama (masyarakat), korupsi itulah yang beliau lakukan, memakan uang rakyat,
padahal beliau telah meiming-imingkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, tapi
gak ada sama sekali” ujar responden. Sempat peneliti memberikan sebuah
pertanyaan mengenai money politik. Dia lebih memberikan tanggapan , bahwa money
politik tidak apa-apa, karena itu salah satu saran untuk membantu masyarakat
dan masyarakat lebih menyebutnya dengan rizki. Dia tetap setuju dengan adanya money
politik, asalkan calon pemimpin tetap pada visi dan misi-nya dalam mengayomi
masyarakat menuju perubahan yang lebih baik, jangan sampai dia hanya memberikan
money politik kepada simpatisan agar masyarakat memilih dia sebagai pemimpin
didaerah tersebut. Saya melihat bahwa banyak perbedaan dan ketidak setujuan
masyarakat dengan adanya money politik ini, karena setiap masyarakat mempunyai
alasan tersendiri dan keinginan tersendiri dalam memanfaatkan money politik
tersebut. Saya bisa menyimpulkan bahwa masyarakat didesa ini dalam kerangka
berfikirnya mengenai pemilu tahun 2014 ini masih mengatas namakan persamaan
keyakinan, mereka masih meragukan akan
kepemimpinan yang mereka anggap berbeda keyakinan, karena mereka menganggap
bahwa dengan berbeda keyakinan, akan mendatangkan sistem kepimpinan yang
berbeda jauh dari apa yang masyarakat harapkan. Padahal bisa jadi calon lurah
non-agama lebih memahami keinginan masyarakat daripada calon lurah sesama
agama. Tapi kejadian seperti itu tidak dapat dipungkiri, karena mayoritas
mutlak yang akan memenangkan permainan politik.
Komentar
Posting Komentar