Langsung ke konten utama

Media Massa dan Kapitalisme (Pro)



A.    Pendahuluan
Salah satu sifat dasar manusia adalah rasa ingin tahu (curiosity). Mulai dari lahir sampai beranjak dewasa, dan berkarier, bahkan sampai meninggalkan dunia fana ini sifat tersebut terus melekat. Rasa keingintahuan baru berkurang bila sudah terpenuhi oleh informasi atau berita yang ingin diketahuinya.
Sifat dasar manusia lainnya adalah kebutuhan eksistensi dan aktualisasi diri (self esteem). Kedua sifat dasar ini mendorong timbulnya kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain guna mencari informasi untuk memenuhi keingintahuan tersebut, atau mengkomunikasikan sesuatu guna memperkuat aktualisasi dirinya.
Cara atau alat yang digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia, berubah sesuai dengan perkembangan peradaban yang dialaminya. Pada awalnya rasa keingintahuan dipenuhi dengan bertanya pada orang lain. Namun, semenjak ditemukannya alat atau cara tulis-menulis, maka komunikasi untuk memenuhi keingintahuan antarmanusia tidak hanya bersifat lisan, tetapi sudah punya alternative lain, yaitu berupa media tulisan. Bahkan setelah ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg di Eropa, maka komunikasi untuk memenuhi keingintahuan manusia menjadi semakin luas, yaitu terbitnya buku dan majalah secara massal. Oleh banyak ahli masa ini disebut sebagai masa awal timbulnya media massa, khususnya media cetak (print media).[1]
Perkembangan peradaban berikutnya ditemukan teknologi penyiaran berupa radio yang diikuti oleh televisi yang dikenal dengan media siaran (electronic media atau broadcast media), dan terakhir perkembangan Teknologi Komunikasi dan Informasi (Information Communication Technology, ICT), melahirkan media terhubung, (on line media), atau Internet, menyajikan alternatif baru bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Di era informasi seperti saat ini. Kehidupan masyarakat sulit dipisahkan, dari media, baik media cetak, maupun media elektronik. Kehidupan masyarakat saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh interaksinya dengan berbagai media. Hampir semua aspek kehidupan dibahas, didiskusikan, dan disiarkan oleh media. Hal ini tentunya membawa begitu banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat dan tentunya juga didalam kehidupan dunia usaha. Salah satu dunia usaha yang sangat melekat erat dan terlepas dari perkembangan ilmu dan teknologi ini adalah dunia penyiaran atau dunia pertelevisian.
Bagaimanapun televisi merupakan sebuah fenomena dalam masyarakat dengan kemampuan televisi yang sangat menakjubkan untuk menembus batas-batas yang sulit ditembus oleh media massa lainnya. Televisi mampu menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan, dan  pendidikan.
Kemampuan televisi yang luar biasa sangat bermanfaat bagi banyak pihak, baik dari kalangan ekonomi hingga politik. Bagi kalangan ekonomi, televisi seringkali dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk kepada konsumen. Sementara bagi kalangan politik, televisi sering digunakan sebagai media kampanye maupun sebagai media sosialisasi. Sehingga tidak mengherankan apabila seiring berjalannya waktu dunia pertelevisian pun akhirnya menjadi suatu lading bisnis yang sangat menguntungkan. Berlomba-lomba setiap stasiun televisi berusaha untuk mengembangkan kreativitasnya dalam melahirkan program-program acara televisi yang bermutu guna menjaring iklan sebnayak-banyaknya yang notabene merupakan sumber utama pemasukan bagi pengelola stasiun televisi.


B.     Pembahasan
a.       Pengertian Kapitalisme dan Media Massa
Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa. Adapun ciri-ciri kapitalisme yaitu :
1.      Sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu.
2.      Barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas (free market)  yang bersifat kompetitif.
3.      Modal kapitali (baik uang maupun kekayaan lain) diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba (profit).
Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang mengizinkan individu atau korporasi bisnis (bukan pemerintah, publik, atau Negara) memiliki dan mengontrol sumber-sumber kekayaan atau capital Negara. Menurut kapitalisme , individu atau perusahaan bebas berkompetisi untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, misalnya melalui harga, promosi, dan lain-lain. Industri media bebas berkompetisi untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.[2]
Pada masa modern masyarakat dikenal sebagai masyarakat konsumen. Masyarakat konsumen adalah masyarakat hasil kreasi kapitalisme global. Mereka adalah masyarakat yang eksistensinya dilihat hanya dengan perbedaan komoditi yang dikonsumsi. Peran media massa dengan program adversiting atau iklan dalam kapitalisme global telah menciptakan suatu masyarakat konsumen yang mengkonsumsi, yang menjadi “sapi perahan” kaum kapitalis.[3]
Gaya hidup konsumtif masyarakat sekarang dikendalikan oleh teknik pemasaran yang menguasai seluruh kesadaran masyarakat konsumen. Keberhasilan suatu teknik pemasaran bergantung pada keberhasilannya meyakinkan konsumen. Masyarakat consumer akan melihat identitas diri atau  kebebasan mereka sebagai kebebasan proyeksikan keinginan pada barang-barang industri (produk yang di iklankan dalam media TV ). Masyarakat yang telah menjadi masyarakat konsumen akan melihat iklan (adversiting) sebagai guru dan teladan moral yang harus diikuti. Tanggung jawab moral kini ada di pundak institusi pembuat iklan, sebagai ujung tombak kapitalisme sebagai guru teladan moralitas yang berkembang dalam masyarakat.[4]
Media Massa adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering disingkat menjadi Media.
Media adalah perantara dalam kegiatan komunikasi sehingga penyampaian pesan terjadi secara tidak langsung, baik menggunakan teknologi komunikasi elektronik maupun cetak. Media massa dalam kenyataannya, didekati oleh kepentingan ekonomi dan politik. Bagi kepentingan ekonomi, media massa dipandang sebagai komoditas. Sehingga media yang dikembangkan kemudian adalah media komersial.[5]
Dalam komunikasi, media (jamak dari medium), adalah alat untuk menyimpan dan menyampaikan informasi atau data untuk keperluaan tertentu. Dengan demikian, secara konsep yang dimaksud dengan media adalah berbagai alat yang dapat digunakan untuk menyimpan dan menyampaikan informasi, seperti buku, alat perekam, surat kabar, majalah, bahkan sampai pada jaringan computer yang sekarang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.[6]
Pada bisnis media hubungan antara biaya produksi (output) dan pendapatan (revenue) terjadi tidak langsung. Hal ini disebabkan pendapatan dari bisnis media utamanya adalah dari iklan, bukan dari output media. Para pemasang iklan akan tertarik untuk menggunakan suatu media untuk beriklan, bila rating atau peringkat acara dari media tersebut tinggi di mata konsumen. Rating acara suatu media, tidak ditentukan oleh kualitas acara yang ditayangkan, tetapi ditentukan oleh banyaknya pemirsa (audience) yang menonton acara yang disiarkan.
Karakteristik Ekonomi pada Media :
            Untuk memahami karakteristik ekonomi media, maka terlebih dahulu dilihat karakteristik ekonomi dari media antara lain :
1.      Bisnis media mengelola dua kelompok pasar yang berbeda dalam waktu yang sama, yaitu pasar produk yang dihasilkan (pembaca, pendengar, pemirsa) dan pasar pemasang iklan.
2.      Bisnis media menghasilkan dua jenis produk dalam waktu yang sama, yaitu isi (content) dan konsumen (audience). Konsumen atau audience ini yang akan menghasilkan peringkat (rating) yang menjadi modal untuk menarik para pemasang iklan.
3.      Bisnis media tidak dibatasi oleh sumber daya dalam menghasilkan produknya, atau sumber daya bisnis media tidak terbatas dalam menghasilkan outputnya.





C.    Analisis terkait Kapitalisme Media Massa (Pro)
Perlunya kapitalisme dalam media massa karena media massa butuh biaya besar untuk produksi, untuk menyeleksi berbagai iklan komersial yang masuk di media, untuk membayar pegawai di media. Tanpa kapitalisme, maka iklan komersial akan sangat mudah untuk masuk tanpa mempertimbangkan dampak. Di era kapitalisme, logika yang dibangun bukan lagi bagaimana memproduksi barang secara massal dengan ongkos seminimal mungkin, logika produksi bergeser menjadi logika konsumsi, yakni bagaimana sebuah produk bisa terjual semaksimal mungkin. 
Dalam hal ini, penulis menganalisis Fenomena tersebut dengan menggunakan Teori Pertukaran Sosial, adapun asumsi dari teori pertukaran sebagai berikut :
Apabila kita pahami dari berbagai pemikiran tokoh yang membahas tentang Teori Pertukaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh George Caspar Homans, Peter M. Blau, Richard Emerson, John Thibout dan Harold H. Kelly maka dapat ditarik suatu pemahaman bahwa teori pertukaran memiliki asumsi dasar sebagai berikut[7] :
a.       Manusia adalah makhluk yang Rasional, dia memperhitungkan Untung dan Rugi
Teori pertukaran melihat bahwa manusia terus menerus terlibat dalam memilih diantara perilaku-perilaku alternative, dengan pilihan mencerminkan cost and reward (biaya dan ganjaran) yang diharapkan berhubungan dengan garis-garis perilaku alternative itu. Tindakan sosial dipandang ekuivalen dengan tindakan ekonomis. Suatu tindakan adalah rasional berdasarkan perhitungan untung rugi.
Dalam rangka interaksi sosial, aktor mempertimbangkan keuntungan yang lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkannya (cost benefit ratio). Oleh sebab itu, semakin tinggi ganjaran (reward) yang diperoleh makin besar kemungkinan suatu perilaku akan diulang. Sebaliknya, makin tinggi biaya atau ancaman hukuman (punishment) yang akan diperoleh maka makin kecil kemungkinan perilaku yang sama akan diulang.
      Teori pertukaran dapat digunakan untuk memahami mengapa kelompok berpendidikan rendah tidak memilih pekerjaan dibandingkan dengan yang lebih tinggi. Pengalaman masa lampau telah banyak memberikan pelajaran bahwa tidak tidak memilih-milih pekerjaan akan dapat bertahan hidup (survive).
b.      Perilaku Pertukaran Sosial Terjadi Apabila : (1) perilaku tersebut harus berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat dicapai melalui interaksi dengan orang lain dan (2) perilaku harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan-tujuan tersebut.
Asumsi dari Blau ini, menurut Poloma (1984), juga sejalan dengan pemikiran Homans tentang pertukaran. Perilaku sosial terjadi melalui interaksi sosial yang mana pelaku berorientasi pada tujuan.
c.       Transaksi-transaksi pertukaran terjadi hanya apabila pihak yang terlibat memperoleh keuntungan dari pertukaran itu.
Sebuah tindakan pertukaran tidak akan terjadi apabila dari pihak-pihak yang terlibat ada yang tidak mendapatkan keuntungan dari suatu transaksi pertukaran. Keuntungan dari suatu pertukaran, tidak selalu berupa ganjaran ekstrinsik seperti uang, barang-barang atau jasa, tetapi juga bisa ganjaran intrinsik seperti kasih sayang, kehormatan, kecantikan, atau keperkasaan. Dalam kaitan dengan asumsi ini, tidak mungkin suatu pertukaran sosial terjadi kalau satu pihak saja yang mendapat keuntungan, sedangkan yang lain tidak mendapat apa-apa, apalagi kalau pihak lain tersebut justru mendapatkan kerugian. Hubungan persahabatan atau hubungan perkawinan, tidak mungkin terjadi kalau ada pihak yang tidak memperoleh keuntungan, apalagi ada pihak yang merugi karena hubungan tersebut.

D.    Contoh Proses Kapitalisme Media Massa
Reformasi 1998 yang segera diikuti pesatnya arus globalisasi membawa implikasi perubahan di semua aspek kehidupan terlebih ekonomi dan politik di Indonesia. Demokratisasi bidang ekonomi yang ditandai dengan privatisasi BUMN merupakan “dunia sosial” yang mendorong munculnya raksasa industri media.
Dalam era globalisasi, isu kepemilikan media secara besar menjadi perhatian utama. Konglomerat yang dilakukan oleh para pemilik modal semakin marak. Dalam beberapa tahun terakhir saja, terlihat kepemilikan gabungan beberapa stasiun televisi telah terlihat, seperti MNC dengan stasiun RCTI , TPI , dan Global Tv. TransCorp dengan stasiun Trans TV dan Trans 7 serta Star dengan ANTV dan TV One. Dalam media cetak juga hampir sama. Saham MRA juga memiliki beberapa media percetakan dan stasiun radio serta sebuah stasiun TV lokal. Selain itu pula Media Grup yang memiliki Media Indonesia dan Metro Tv.[8]
Kepemilikan media berpusat pada segelintir orang, dalam hal ini Trans7 dan Trans Tv berada pada paying bisnis yang sama yakni Trans Corp yang dikuasai oleh Chairul Tanjung, Global Tv, RCTI, dan TPI bergabung dalam Group MNC dan bertindak selaku pemilik di Indonesia yaitu Hary Tanoesoedibyo, Lativi dan ANTV bernaung dibawah bendera Bakrie Group dengan boss utama Abu Rizal Bakrie, SCTV yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh  Eddy Sariatmadja, dan yang terakhir Metro Tv dengan pimpinannya yang termansyur karena wajahnya sering ditampilkan oleh TV yang dimilikinya sendiri.
Ekonomi dan bisnis media merupakan alat yang ampuh untuk pengembangan kreativitas di masyarakat. Oleh karena itu, banyak orang sering mengelompokkan ekonomi kreativitas merupakan bagian dari ekonomi media. Berikut adalah beberapa innovator kreatif, entrepreneur, dan miliarder muda :
a.       Larry Page dan Sergey Brin, Mahasiswa Universitas Stanford penemu Google pada 7 September 1998 ketika mereka baru berusia 24 tahun. Dimulai dari ruang garasi yang menjadi “kantor” pertama mereka, dua orang ini telah mengilhami ribuan anak muda untuk mencari uang secara online. Larry dan Sergey kemudian menciptakan perusahaan senilai satu miliar dolar yang mengguncang internet.
b.      Mark Zuckerberg, mahasiswa Universitas Harvard pada 4 Februari 2004 meluncurkan Facebook sebagai suatu platform jaringan sosial bagi remaja di perguruan tinggi ketika dia baru berusia 19 tahun. Facebook kini merupakan situs web jaringan sosial terbesar diatas Myspace maupun Twitter , Facebook terus tumbuh hari demi hari, dengan jutaan pengguna baru terus mendaftar setiap bulan.
c.       Steve Chen dan Chad Hurley, keduanya mendirikan Youtube pada Februari 2005 ketika Chad berusia 28 tahun dan Steve 27 tahun. Youtube kemudian diakuisisi oleh Google pada tahun 2006 dengan nilai $1.65 miliar.
d.      Jerry Yang dan David Filo, keduanya adalah mahasiswa S2 Universitas Stanford penemu Yahoo, mesin pencari yang merupakan saingan terdekat Google. Jerry berusia 26 tahun dan Filo 28 tahun ketika mereka menciptakan Yahoo. Bahkan Microsoft menawarkan harga beli senilai US$44.6 miliar untuk mengambil alih Yahoo.
e.       Matt Mullenweg, pada usia 19 tahun ia menciptakan platform blogging yang kini dipakai dimana-mana. Ia mendirikan platform blogging Wordpress pada 2005, dan sejak itu blogosphere pun mulai berevolusi. Orang-orang mulai berpindah dari MovetableType dan platform lainnya ke Wordpress, karena platform baru ini memang mudah dipakai dan selalu diperbaharui dan terus meningkat kinerjanya.
f.       Tom Anderson menemukan jaringan sosial dengan dengan lebih dari 100 juta pengguna. Tom mendirikan Myspace di tahun 2004 ketika ia baru berusia 23 tahun dan tercatat sebagai pendiri dari jaringan sosial yang dipakai paling luas di internet.
g.      Blake Ross dan Joe Hewitt. Mendirikan Mozilla pada 2003, ketika dia baru berusia 19 tahun. Sejak itu, Mozilla tumbuh sangat pesat, menggoda pengguna internet untuk memakai penjelajah Firefox Mozilla mereka sendiri, yang terbukti memang lebih mudah dioperasikan disbandingkan kebanyakan aplikasi penjelajah Web lainnya.
h.      Piere Omidyar, mendirikan eBay, perusahaan lelang online sedunia, pada tahun 1995. Pada usia 28 tahun. Sejak itu, banyak orang-orang menghargai penemuannya, sehingga mendorong eBay menjadi platform dunia.
Di Indonesia, stasiun televisi berlomba-lomba menggelar acara idola-idolaan yang pemenangnya ditentukan oleh jumlah SMS. hal tersebut dilakukan karena kontes semacam itu adalah bisnis besar yang melibatkan banyak pemilik modal. Salah satunya ada acara televisi yang ditayangkan di RCTI yaitu Indonesian Idol yang merupakan ajang pencarian bakat menyanyi. Tidak tahu pasti berapa keuntungan yang didapatkan stasiun televisi. Namun kita bisa menghitung secara kasar, jika dalam satu musim kontes, jumlah SMS yang masuk sekitar 6 juta- 7 juta dengan tariff premium Rp. 2000 maka uang yang berputar dari hasil sms saja mencapai Rp. 12 miliar- 14 miliar per musim kontes. Uang tersebut memang tidak seluruhnya menjadi milik stasiun televisi, tetapi harus dibagi ke content provider (cp) dan operator seluler yang pembagiannya sesuai dengan kesepakatan.
Adapula yang menayangkan reality show yang mana merupakan acara televisi yang menggambarkan adegan seakan-akan benar-benar berlangsung apa tanpa skenario, dengan pemain yang umumnya khalayak umum biasa, bukan aktor. Adanya kesuksesan dalam menayangkan acara ini, membuat acara yang bertajuk reality show diminati oleh banyak stasiun pertelevisian untuk mendapatkan rating tinggi dari sebuah lembaga survey. Salah satu contohnya yaitu : reality show yang bersifar amal (charity) seperti : acara Bedah Rumah, Minta Tolong, dan sebagainya. Adapun yang berkaitan dengan kehidupan seperti : acara Jika Aku Menjadi, Tukar Nasib, dan sebagainya. Adapula program tv yang berisikan rekaman tersembunyi dari perilaku orang , seperti : acara Playboy Kabel, Orang Ketiga, CCTV, dan sebagainya. Dan yang terakhir yang paling banyak peminatnya adalah program pencarian bakat seperti : Kontes Dangdut Indonesia (KDI), Indonesian Idol, dan sebagainya.
Contoh diatas merupakan beberapa contoh yang memperlihatkan bagaimana proses kapitalisme dalam Media Massa. 











E.     Kesimpulan
Kapitalisme dalam media massa sah-sah saja, karena media massa mengalami kontradiksi sebagai institusi kapitalis yang berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal. Media massa juga harus berorientasi pada pasar dan sensitif terhadap dinamika persaingan pasar, media massa harus berusaha untuk menyajikan produk antara lain informasi, politik dan ekonomi. Dan kapitalisme dalam media massa yang dapat menciptakan pasar bebas (free market) yang bersifat kompetitif.  Sehingga mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja yang akan meningkatkan kehidupan rakyat.


[1] Henry Faizal Noor “Ekonomi Media”, Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2010. Hlm. 1
[2] Usman Ks “Ekonomi Media” , Penerbit : Ghalia Indonesia, 2009. hlm. 22
[3] Selu Margaretha Kushendrawati “ Hiperealitas dan Ruang Publik”, Jakarta : Penaku, hlm. 47
[4] Ibid, hlm. 50
[5] Frida Kusumastuti, dkk “ Hukum Media Massa”, Banten : Universitas Terbuka,2011. Hlm. 1.17
[6] Henry Faizal Noor “Ekonomi Media”, Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2010. Hlm. 12
[7] Prof.Dr. Damsar “Pengantar Sosiologi Ekonomi”, Jakarta: Kencana, 2009. Hlm. 63-66
[8] Usman Ks “Ekonomi Media” , penerbit : Ghalia Indonesia. Hlm.19

Komentar