Tuhan, aku ingin menulis lagi, menulis semua tentang kehidupanku, semua
pengalaman hidupku, semua kenangan yang bisa kuingat, semua tentangku Tuhan,.
Terimakasih Tuhan kau memberikan aku orangtua yang begitu istimewa, walau
mereka jarang bersamaku, bahkan tak pernah bersamaku. Aku terlahir seperti yang
engkau kehendaki, aku terlahir dari seorang ibu rumah tangga dan dari seorang
ayah yang bekerja sebagai wiraswasta, yang jelas aku tak pernah melihatnya
semenjak aku mulai memasuki bangku sekolah dasar, aku hanya tahu, bahwa aku
hanya memilki seorang ibu, meskipun ibu selalu mengatakan bahwa aku selalu
memilki seorang ayah, dan perkataan ibu selalu ku iya kan. Tuhan, aku tahu ini semua kehendakmu,
kehendak yang kau berikan pada keluargaku, ibu yang terpisah dengan ayah yang
terbentang oleh ribuan lautan, dan membuatku tak pernah menjadi keluarga yang
utuh, aku mulai menyadarinya seiring usiaku. Ibu mulai menitipkan aku pada
keluarga ibuku, dan ibu menginginkan kembali pada ayah yang entah dimana tempat
tinggalnya, saat itu aku hanyalah bocah yang tak tahu apa-apa. Aku hanya tahu
ibu pergi untuk menemui ayah. Beberapa tahun dari kepergian ibu menemui ayah,
ibu selalu menghubungiku, aku tak pernah menanyakan ibu dimana ? sama siapa ?
apakah bertemu dengan ayah ? aku tak pernah menanyakan itu, karena pertanyaan
itu sangat sulit diucapkan oleh anak seusiaku, saat itu usiaku 10 tahun, aku
duduk dibangku kelas 4. Tuhan aku tahu ini semua kehendakmu, ibu mengabari
keluarga untuk bertemu dan tinggal bersama, dan aku tak menanyakan kenapa ?
kenapa ibu pulang ? apakah ibu sudah tidak bersama ayah ? apakah ayah akan
pulang bersama ibu sehiingga kami akan menjadi keluarga yang utuh ? aku tak
menanyakan itu, karena pertanyaan itu terlalu sulit diucapkan oleh anak
seusiaku saat itu. Tuhan aku tahu semua ini kehendakmu, ibu benar-benar pulang
dan kembali pada keluarga ini lagi, tapi tanpa ayah, ibu tak pernah membawa
pulang ayah, kemana ayah ? apa benar aku masih memiliki ayah ? siapa ayahku ?
bahkan aku tak pernah melihatnya bahkan hanya sekedar foto, aku menyadari
seiring usiaku. Tuhan aku tahu semua ini kehendakmu, kau memberikan cobaan
untuk ibuku, memberikan penyakit yang tak pernah keluarga ketahui sebelumnya,
ibu pun tak pernah memberitahukannya, saat itu ibu mulai sakit-sakitan, aku
selalu melihat ibu digendong paman untuk berobat kerumah sakit, karena kami tak
punya kendaraan untuk mengantar ibu, kami terlahir dari keluarga yang kurang
mampu, untung saja ibu masih memiliki persedian uang untuk memeriksakan ia ke
rumah sakit, setiap hari aku harus melihat ibu terbaring dirumah sakit, aku
tahu ibu pasti sangat kesakitan, aku tidak mengerti penyakit apa yang diderita
ibu. Tuhan, aku tahu ini semua kehendakmu, kau telah memberikan cobaan yang
begitu berat untuk ibuku, karena aku tahu, engkau begitu cinta pada ibuku,
hingga akhirnya engkau mengambilnya dariku. Aku mulai menyadarinya seiring
usiaku. Tuhan, aku tahu ini semua kehendakmu, engkaulah yang mengatur scenario
kehidupanku, engkau memberikan cobaan untukku dimulai aku masih tak mengerti
apa-apa tentang dunia ini, pertama engkau memisahkan aku dengan ayah, dan
engkau mengambil ibuku karena engkau terlalu mencintainya, meski engkau tahu
bahwa aku masih ingin memilikinya, karena aku baru sebulan hidup bersama
dengannya, dan engkau mengambilnya untuk selama-lamanya dan tak akan pernah
kembali lagi. Tuhan aku tahu ini semua kehendakmu, engkau biarkan aku tak
memiliki kekuatan lagi, karena kekuatanku telah engkau ambil, tapi engkau
memberikan kesempatan untuk memberikanku kekuatan baru dengan mempertemukanku
dengan ayah, aku masih ingat saat itu aku lulus sekolah dasar dan keluarga dari
pihak ayah menjemputku, aku selalu berharap bisa menemuinya karena aku tak
pernah melihatnya meskipun ibu telah meninggal dunia ini, ayah tetap tak pernah menghadiri pemakaman ibu, padahal
aku selalu berharap bisa bertemu dengan ayah saat pemakaman ibu, namun sayang,
itu hanya harapanku. Tuhan aku tahu ini semua kehendakmu, engkau biarkan aku
dalam keadaan lemah dan membiarkanku tinggal bersama keluarga dari pihak
ayahku, karena dengan semua itu aku bisa melanjutkan sekolah , karena keluarga
ibu tak sanggup membiayai sekolahku. Tuhan , engkau tahu apa yang aku inginkan
saat itu, aku ingin bertemu ayah, aku ingin membangun kekuatanku lagi, aku sudah
terlalu lemah untuk hidup saat ibu meninggalkanku , saat engkau mengambilnya
dariku, dan saat itu aku berharap memiliki kekuatan lagi saat bertemu dengan
ayah, namun sayang, engkau tak pernah mempertemukan aku dengannya. Tuhan engkau
biarkan aku mengenal ayah melalui keluargaku tapi engkau tak memperkenanku
untuk bertemu dengannya secara langsung, seiring usiaku, aku masih ingat usiaku
saat itu 13 tahun, aku masih dibangku sekolah menengah kelas 1, aku menanyakan
kepada keluargaku, siapa ayah ? dimana ia sekarang ? sama siapa ? dan benarkah aku anaknya ? aku
menanyakan itu semua karena aku menganggap telah pantas aku bertanya seperti
itu diusiaku........ lanjutannya nyusul :)
1. Biografi Edmund Husserl Edmund Gustav Albrecht Husserl atau dikenal dengan nama Edmund Husserl lahir pada tanggal 08 April 1859 di kota Proßnitz, Moravia, Austria (sekarang Prostějov, Czech Republic) . Keluarganya adalah penganut Yahudi, meskipun bukan keluarga ortodoks. Dia memulai belajar bahasa Jerman klasik di Realgymnasium di Wina pada usia 10 tahun, dan di tahun berikutnya dipindahkan ke Staatsgymnasium di Olmütz. Dia menempuh studinya di Universitas Leipzig, berkonsentrasi pada Matematika, fisika, dan filsafat, dengan minat khusus dalam astronomi dan optik. Setelah dua tahun, ia pindah ke Berlin untuk mengembangkan minatnya dalam matematika, sekali lagi kembali ke Wina, dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1883. [1] Disertasinya adalah tentang teori kalkulus variasi. Dia pernah mengajar untuk waktu yang singkat di Berlin. Namun, karena tertarik dengan kuliah Franz Brentano menyebabkannya untuk kembali ke Wina pada tahun 1884. Kuliah ini memiliki pengaruh ...
Komentar
Posting Komentar